RSS
Sampingan
07 Feb

Sayap-sayap dalam Senja

Oleh Wahyu Maliyani (XII IPA 1/ 14)

Judul Novel     : WaImagehai

Pengarang       : Korrie Layunan Rampan

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Edisi terbit      : Pertama April 2003

Tebal               : 158 hlm. + ix

Harga              : Rp 18.000,00

Warna cover    : Hitam

Korrie Layunan Rampan lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Selama kuliah di Yogyakarta bergabung dengan Persada Study Klub Sastra yang diasuh penyair Umbu Landu paranggi. Tahun 1978 bekerja diJakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Pernah beberapa tahun menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio pusat, Jakarta, mengajar, dan terakhir menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sentawar pos yang terbit di Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

          Beliau telah menulis sekitar 100 buku sastra, meliputi novel, kumpulan cerpen pendek, kumpulan puisi, esai, dan kritik sastra. Novelnya Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1976 dan 1998). Ia juga menulis 50 judul buku cerita anak-anak, termasuk Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Ia juga menerjemahkan sekitar 100 judul buku cerita anak-anak dan puluhan judul cerita pendek. Tak heran jika kali ini, ia menghadirkan sebuah cerpen dengan judul Wahai.

Tahun kekuasaan Orde Baru merupakan tahun sukar bagi para pekerja sastra Indonesia. Tuntutan penguasa terhadap keseragaman, termasuk dalam penulisan sastra membawa konsekuensi kepada para pengarang. Oleh kondisi demikian, lahirlah karya-karya sufistik yang menggarap alam rohani, karya simbolik yang dirancang dengan latar alegori, karya-karya romantic yang mengekpos dunia sejarah dan imajinasi masa silam, karya-karya karikatural yang memperlihatkan upaya pembadutan, dan karya-karya lukisan masyarakat yang menggarap determinisme kehidupan. Tampaknya inilah plot yang dipilih Korrie Layunan Rampan untuk buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Wahai.

Melalui berbagai kisah yang disajikan pembaca  akan menyelami sekelumit nuansa dunia sejarah dan lukisan masyarakat yang menggarap determinisme kehidupan. Misalnya kisah Ken Dedes dan Ken Arok yang mengkhianati Tunggul Ametung, seperti yang terlukis dalam cerpen  “Sebuah Cerita kepada Kelam”. Dengan paparan secara naratif, alur tema cerpen ini sangat menggoda dan menimbulkan rasa penasaran untuk bertanya-tanya, meskipun tetap ada perenungan dalam diri tokohnya.

Harus dicatat pula bahwa Korrie Layunan Rampan adalah seorang sastrawan yang terkenal dengan karyanya yang imajinatif dan sangat menarik. Bahasa yang digunakan dalam membuat cerpen memiliki gaya bahasa yang tinggi dan kadang sulit untuk dipahami maknanya. Suasana yang diceritakan saling mendukung dengan gaya bahasa yang bersahaja, mengalir, ringan, tetapi sangat khas.

Cerpen-cerpen dengan unsure sejarah lainnya, misalnya kisah kehidupan masyarakat di Candi Pringapus dalam cerpen “Tengger”. Tentang tabrakan modernisasi tradisi dalm “Wahai”. Ada pula cerita mengenai seorang wanita yang mengakhiri hidupnya karena dikhianati pacarnya dalam cerpen “Gajah Mungkur”.

Tema lain yang cukup menonjol dalam kumpulan cerpen ini adalah imajinasi masa silam dan romantic yang mengekpos, yang kenyataanya banyak dialami dalam kehidupan sehari-hari selama beberapa decade terakhir ini. Misalnya dalam cerpennya yang berjudul Pattana, Wellingtone, Sobatku yang Setia, Wangi, Tupai, dan Kosong. Kontak langsung Korrie Layunan Rampan dengan lingkungan disekitar dan dari beberapa pengalaman yang telah dialaminya menjadikan setting sebagian cerpen mengungkap data menarik tentang kehidupan dan peristiwa yang menarik yang ada dalam diri manusia secara alami.

Pengalaman Korrie Layunan Rampan dalam menulis sastra yang menggambarkan berbagai peristiwa dalam masyarakat dan sudut tempat di dalam masyarakat sangat mendominasi. Hal itu terlihat jelas dari sisi-sisi emosional dan dan sekaligus kecerdasan intelektual dibaliknya. Struktur berpikir dalam cerpennya tidak mengada-ada sebab tema-tema yang diusung berdasarkan pengalaman langsung dari dunia empiric. Benar kata orang, bahwa sebuah pengalan ata u peristiwa yang telah terjadi merupakan ilham yang terbaik untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang menarik dan terlihat nyata.

Sinopsis cerpen berjudul “Pattana”:

          Mas Kun yang pergi ke Afrika untuk menghadiri sebuah acara seminar bersama seorang sastrawan terkenal dari Indonesia. Dia disana bertemu dengan orang yang mirip teman lamanya waktu dibangku kuliah yaitu Larasati. Namun dugaannya salah, wanita itu bukan arasati melainkan Diah Pitaloka, seorang wanita dari Indonesia juga, tepatnya berasal dari Yogyakarta. Dari pertemuan itu Mas Kun timbul rasa suka dengan Diah. Sekembalinya Mas Kun ke Indonesia dia ditugaskan untuk bekerja di Redaksi Majalah di Yogyakarta. Waktu yang telah mempertemukan kembali Mas Kun dengan Diah. Sayangnya Diah telah menikah dengan Wisnu Wanengpati. Namun, Wisnu Wanengpati menghilang dari pertapaannya di Gua Langse di Pantai Parangtritis. Beredar kabar bahwa Wisnu telah menikah dengan Ratu Pantai Laut Selatan yaitu Nyai Roro Kidul.

Hopefully your learning so fun!!!😉

Resensi Novel Wahai

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Februari 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: